Perjalanan Qalbu
Jejeran hutan pinus yang menjulang, gumpalan kabut yang beterbangan secara acak, hamparan kebun teh dan kebun strawberry yang berbaris beraturan serta udara sejuk nan segar yang memanjakan setiap lekuk saluran pernapasan..semuanya seolah menghipnotis kami sesaat, membuat kami serasa berada di belahan dunia lain yang berjarak ratusan mil dari polusi, banjir, terik, macet, bising dan hedonisnya Makassar.
Tak pelak saat-saat kita dipukau oleh kuasa-Nya, oleh kemampuan-Nya mencipta, oleh kedahsyatan segala ciptaan-Nya seperti inilah kita merasa dekat, sangat amat dekat malah denganNya sang Maha Pencipta..subhanallah..hanya itu yang bisa terucap lewat bibir dan dalam hati..
Kita pun tersadar selama ini telah jauh terpisah dari kedirian kita, menjadi manusia yang lupa cara bagaimana menjadi manusia. Manusia yang kehilangan dirinya sendiri dalam ruang waktu yang kita reka setiap hari. Kitalah budak dari sebuah sistem yang setiap hari terus-menerus, memisahkan kita dari kemanusiaan kita, terlanjur terjebak dalam sebuah sistem yang bersifat rutin dan permanen yang dengan sempurna telah mengubah kita menjadi manusia yang menumbalkan hidupnya ke dalam siklus bernama "lahir-sekolah-bekerja-mati".
Tanpa pernah merenungkan segala kuasa-Nya, tanpa pernah menoleh pada ciptaan-Nya, tanpa pernah mensyukuri segala nikmat-Nya. Ah..kita terlalu sering melupakan-Nya dalam kehidupan kita karena terbuai oleh ambisi mengejar pendidikan dan karir, terkurung dalam jeruji hubungan asmara yang memabukkan, terlena oleh upaya mengumpulkan harta yang berkilauan serta terpukau oleh berbagai keglamouran gaya hidup kota yang serba 'wow' sebagai efek dari sebuah residu peradaban manusia, sementara Dia yang bertahta di langit ke tujuh nun jauh disana terus menerus mengawasi kita dan mengalirkan jutaan kasih sayang-Nya yang melimpah pada kita. Astaghfirullah...inilah kami manusia yang lebih memilih kenikmatan dunia yang sifatnya fana. tak abadi dibandingkan nikmat-Nya yang abadi. -lintas dunia..lintas alam.. Sungguh kaki-kaki kesadaran kami masih ditarik-tarik oleh nafsu duniawi..
Saat kepura-puraan menjangkiti kepura-puraan yang lain, penipu menciptakan penipu yang lainnya dan kesombongan manusia tak pernah berhenti sampai ia merusak dirinya sendiri hingga jutaan tetes air yang mencari hulunya, mengaliri sungai , menggiring ombak sagara, bergemuruh, bersiap menjelma sebelas badai yang segera menenggelamkan segala kesombongan manusia. Jiwa kami pun luluh berlutut pada keagungan-Mu wahai Sang Khalik.
Inilah perjalanan kami sebagai hamba yang kembali menemuka kemanusiaannya..perjalanan spritual yang bukan lagi perjalanan linier, melainkan perjalanan kuantum yang bisa melompat dan berakrobat tanpa bisa ditebak
Maka letakkanlah earphone itu, pindahkan jemarimu dari instagram, facebook atau whatsapp itu, matikan televisi dan laptop itu, pergilah berwudhu, ramaikanlah jama'ah mesjid rumah Allah, lantunkanlah ayat-ayat suci Al-Qur'an yang telah lama tak terdengar, bersujud, bertafakur dan berdo'alah pada-Nya. Lepaskan semua kerinduanmu pada-Nya, luapkan semua tangis penyesalan-Mu dan berjanjilah untuk kembali menjadi hamba-Nya yang akan selalu mengingat-Nya..
Daun-daun berguguran, butir-butir hujan kembali membasahi tanah dan semua kepompong pecah untuk akhirnya mengubah ulut menjadi kupu-kupu..Bermetamorfosis sempurna..seperti yang kami rasakan saat ini..
Malino terima kasih..sejukmu mengembalikan digit keimanan kami yang telah lama tandus..
Inilah perjalanan pertama kami dalam kebersamaan penuh bahagia dan cinta, semoga menjadi tapak awal yang baik di masa depan.
Sebuah perjalanan Qalbu
Makassar, 7 Agustus 2017
Komentar
Posting Komentar