Perjuangan


Mungkin kaulah bunga mawar ungu yang datang dari masa perbungaan raya..
Menyinggahi penghujanku yang menderas memenuhi janji kemaraunya.. 
Kau hanya setitik di antara ribuan tetes..Seserpih di antara hamparan salju..
Sepucuk yang bersemi menemani embun dini hari tadi..
Sedangkan aku masih menjadi musim yang berlari di sayap waktu..
Menjelma kupu-kupu bersayap ungu di gelap pejammu.. 
Menerka isi hatimu..menanti terbukanya untukku..
Aku kan terus bersenandung tentang cinta hingga semua musim berlalu..
Meski kau terus membelakangiku..Dewi..


Jika kukatakan aku selalu mencintaimu, sesungguhnya aku berbohong: Kadang-kadang aku membencimu. Tetapi, apa bedanya? Benciku selalu berhasil membuatku semakin mencintaimu. Bagiku, mencintai atau membencimu hanya semacam cara agar kamu selalu ada dalam diriku. Dengan mencintaimu, kau selalu ada di hatiku. Dengan membencimu, kau selalu ada dalam pikiranku.

Yah begitulah hubungan antara cinta dan benci, seperti saudara yang tak bisa dipisahkan dengan kedatangannya yang selalu bergantian, semakin besar benci maka semakin besar cinta yang kemudian datang menyusul. Meski sebenarnya aku tak pernah tahu cara membencimu dengan baik dan benar sebagaimana engkau yang tak kunjung tahu cara mencintaiku dengan baik dan benar.

Entah apa yang sedang direncanakan langit, meski berbagai cinta yang datang menawarkan ketulusan aku tetap memilihmu, walau beberapa pilihan datang menggoda aku tetap menomorsatukanmu lebih dari apa dan siapapun. Sejak senyumanmu mencuri hatiku, kau telah sekaligus mengunci langkahku untuk tak bisa pergi ke jebakan cinta siapa-siapa lagi. Hingga tak heran terkadang aku membencimu setengah mati, tetapi sekaligus tak bisa membohongi diriku sendiri bahwa tak ada yang lebih kucintai selain kamu.

Begitulah, di saat-saat terburuk sekalipun, saat aku paling membencimu: Meski kadang-kadang aku ingin mengajakmu ke tempat paling tinggi agar aku bisa menjatuhkanmu dari sana, sebenarnya aku akan bergegas ke bawah untuk menangkap dan mendekapmu. Sebab jauh di kedalaman diriku, tak ada yang lebih membuatku takut selain mendapatimu terluka, atau bersedih, atau kecewa—apalagi jika aku yang melakukannya.

Walau sebenarnya jauh di kedalaman hati ini aku selalu ingin membuka semua pintu dan jendela rahasia dalam diriku agar kau bisa memasuki dan mengetahui semua tentang kehidupanku: kekuatan dan kelemahan-kelemahanku, keberanian dan ketakutan-ketakutanku, kebahagiaan dan kesedihan-kesedihanku begitu juga sebaliknya. Ya, hanya aku dan kamu yang tahu. Kita berdua. (Tuhan tak perlu dihitung. Dia selalu tahu segalanya, kan?) Maka dengan semua pengetahuanmu tentang diriku kelak, kaulah satu-satunya orang yang mungkin akan tahu bagaimana caranya untuk benar-benar membahagiakanku—atau benar-benar menghancurkanku. Dan aku pun seperti itu pula.

Dengan setengah kepercayaan diriku dan darimu aku beranikan diri untuk mencintaimu sepenuh hati, sampai cinta hilang ditelan sepi karena tidak lagi diberi arti. Aku percaya kau tidak akan menyakiti sementara aku berjanji untuk selalu menemani, tinggalkan masa lalu yang terlewati. Aku akan selalu berjuang atas nama impian tentangmu yang selalu tak berbatas walau jauh dari sempurna tapi selalu membekas meski terkadang tak berbalas. Aku rela menunggu jika kau ingin dan memang pantas untuk ditunggu, tak perlu mempermasalahkan waktu karena aku sudah lama kehilangan waktu saat semesta mempertemukan kita.  Aku tidak pernah takut pada waktu sebagaimana aku tak pernah takut dengan jarak, aku pun tidak pernah takut dengan kepergianmu aku hanya takut kau tidak pulang, kepadaku nantinya..

Sejak pertama kali menatap sorot matamu aku yakin bahwa perasaan ini akan bertahan lama juga butuh perjuangan yang tidak mudah dan di setiap perjuangan tentulah memiliki resiko gagal maka jauh sebelum memulai perjuangan ini telah kusisakan sedikit ruang di hatiku untuk sesuatu yang dikenal sebagai ikhlas. Keikhlasan untuk menunggu atau meninggalkanmu atas nama kebahagiaan yang sungguh sangat layak engkau dapatkan Dewi. Aku tak pernah menyesal kenapa tidak bertemu denganmu dari dulu, aku senang kita dipertemukan sekarang saat masa lalu justru telah mengajariku banyak hal tuk menjadi lebih baik.  Mungkin kau seperti hadiah terindah yang bisa saja salah dikirimkan oleh Tuhan, aku senang takdir sempat memberikanmu padaku tapi sedihnya aku mulai meragukan apakah benar aku lah orang yang tepat untuk membahagiakanmu..entahlah..
Tahukah Dewi.. hanya dua hal yang bisa membuatku berhenti menunggumu, kau menyuruhku berhenti menunggu dan yang kedua kau telah menjadi milikku seutuhnya berikut hatimu. Meski kutahu tidak semua penantian ada ujungnya, tidak semua perasaan menemukan jawabannya dan tidak semua cinta layak untuk diperjuangkan.
Sungguh aku mencintaimu.. dulu iya, sekarang juga masih, esok lusa pun pasti..
Cinta itu karunia, kita diberi meski tidak meminta. Tetapi “mencintai” adalah perkara lainnya, kan? Ia selalu membutuhkan usaha, kita yang mencari dan harus menemukannya sendiri.  Dan kisah ini adalah tentang cinta yang menyempurnakan pencarian bukan mencari cinta yang penuh kesempurnaan. Maka bagiku, mencintaimu adalah berhenti mengandaikan semua hal baik yang tak ada pada dirimu sekaligus memaafkan semua hal buruk yang ada pada dirimu. Demikianlah caraku menemukan cinta pada dirimu: Barangkali ia memang sederhana, sesederhana tawa kecilmu sambil menutup sebagian bibir merahmu dengan tangan kanan.

Aku selalu bangga dengan perjuangan ini, bangga sebagai lelaki yang selalu berdiri tegar di atas pilihannya sendiri dengan harga diri di hati..
Selamat berjuang cinta tak bertuan,semoga kau temukan kebahagiaan bersama harapan

Wakatobi, 23 September 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan Qalbu

Rindu