Another Surprise

Ingin rasanya menghentikan hal bernama waktu ketika bersamamu,  menemukanmu dalam jangkauan tatapan mataku selalu berhasil menghadirkan rasa tenteram serta rasa tak butuh apa-apa lagi dan sebaliknya saat aku jauh darimu maka sebuah perasaan dahaga akan kehadiranmu tiba-tiba menyiksaku dengan begitu hebatnya hingga sore datang menjelang, hingga malam tiba menghadirkan purnama atau bahkan hingga mentari kembali mengabarkan pagi .
Jujur mungkin aku mencintaimu terlalu banyak dalam waktu yang terlalu sedikit sebagaimana aku kehilanganmu terlalu banyak dalam kebersamaan kita yang bagiku selalu terlalu singkat.
Meski dengan segenap kesadaranku aku kerap kali berusaha menyayangimu tetap pada batasnya tanpa perlu berlebihan pun berkekurangan, tanpa perlu mengekang pun melepas cukup pada batasnya walau sesungguhnya aku ingin mencintaimu tanpa batas..

Entah mengapa di setiap malam, kamu adalah orang terakhir yang aku ingat sebelum tidur pun di setiap pagi kau adalah orang pertama yang aku ingat setelah bangun dan bila ada yang bertanya padaku hal apa di dunia ini yang ingin selalu pertama aku lihat setiap kali bangun pagi? mungkin jawabannya sederhana..Senyumanmu...
Senyuman yang selalu memicu sensasi rasa aneh bernama rindu di setiap malam-malam insomniaku.

Rindu..sebuah rasa yang tumbuh bersama cinta, mampu secepat lesat cahaya bekerja sama dengan waktu yang semakin menebalkan rasa hingga memenuhi hampir seluruh tepi-tepi memori otak. Ketika senyawa rasa kasih, sayang, cinta dan rindu telah terlanjur menyatu ada ketidakmengertian yang memangkas saraf-saraf kewarasan, ada berjuta kebahagiaan aneh yang punya kekuatan mengendalikan datang meski sebatas hanya memandang sekilas wajahnya yang begitu ekstase.

Aku akan selalu punya "karena" untuk setiap "kenapa" darimu sampai mungkin suatu saat kau akan bertanya 'Kenapa kau merindukanku Rio??' jawabnya aku tak tahu.. mungkin tersebab kibasan rambut lurusmu yang seperti hujan menderas di akhir kemarau panjang, mungkin karena suara merdumu yang seperti hembusan angin, membelai perlahan, menenangkan perasaan atau mungkin juga aku hanya ingin melihat senyuman dan tawamu yang selalu datang dari hati.

Bila ada yang menanyakan sebesar apakah rasa rinduku padamu? jawabnya hanya sebesar kuku jari, ukurannya tidak terlalu kecil tapi tak juga sangat besar namun setiap kali dipotong ia selalu tumbuh, seperti itu rinduku padamu mungkin bisa dibilang cukup, karena cukup adalah bilangan tak terhingga dari seluruh rumus percintaan.  Semakin lama mengenalmu semakin aku paham tak ada cara yang paling tepat untuk mencinta, yang bisa disebut tepat adalah ketika aku mencintai dan merindukanmu dengan cukup.
Di antara kita ada sebuah janji rahasia antara otak dan hatiku, mereka diam-diam berjanji untuk selalu menyayangimu dengan cukup, cukup dengan rasa rindu yang seringkali menghadirkan pertempuran besar dalam ruang-ruang hening jiwa ini di setiap malamnya.

Rindu...sebuah rasa penuh keajaiban yang selalu memiliki kekuatan spesial untuk menarik kita menuju garis kebimbangan sikap untuk kemudian menghipnotis hingga kita melewati batas yang telah kita gariskan sendiri bahkan melanggar prinsip hidup yang selama ini kita imani. Dengan kedatangannya yang selalu tanpa peringatan atau permisi, rasa ini terlalu sulit untuk dimengerti namun bukankah rindu memang adalah selebrasi dari perasaan yang tak perlu dipaksakan untuk dimengerti, tak usah dianalisa berlebihan, terkadang kita hanya perlu menikmatinya.
Yah rindu memang seringkali datangnya tanpa peringatan dan permisi, seperti kedatanganmu malam ini yang mengagetkan sekaligus menakjubkan, membasuh dengan tuntas dahaga kerinduan ini, menyembuhkan segala rasa sakit yang pernah ada.

Luv u more Dewi...
Makassar, 3 Februari 2018


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan Qalbu

Rindu

Perjuangan